Kepala Sub Bidang Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Bidang Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah AKBP Sumy Hastry Purwanti. (Eka Setiawan/KORAN SINDO)
SEMARANG - Penelitian DNA berbagai populasi di
Indonesia mengantarkan Kepala Sub Bidang Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Bidang
Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah AKBP Sumy Hastry Purwanti
sebagai polisi pertama di Asia yang menyandang gelar doktor spesialisasi
forensik.
Tak hanya itu, hasil penelitiannya punya sumbangsih besar terhadap kecepatan
identifikasi korban maupun tersangka dari suatu tindak pidana atau bencana.
Hastry lulus dalam sidang terbuka di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Kamis 10 Maret 2016. Perjuangannya pun tak mudah, selain tentu saja saat
penelitian, saat sidang disertasi dia harus menghadapi 10 penyanggah yang
semuanya profesor dan 15 penguji akademis. Hastry lulus sempurna, dengan IPK
3,89.
Program Studi Ilmu Kedokteran Jenjang
Doktor (S3) itu ditempuh 3 tahun 10 bulan. Judul disertasinya; Variasi Genetika
Pada Populasi Batak, Jawa, Dayak, Toraja dan Trunyan dengan Pemeriksaan D-Loop
Mitokondria DNA untuk Kepentingan Identifikasi Forensik.
Perwira polisi yang sebentar lagi menginjak usia
46 tahun itu meneliti DNA Mitokondria atas lima populasi masyarakat di
Indonesia, masing-masing; Batak (Sumatera), Dayak (Kalimantan), Toraja
(Sulawesi), Trunyan (Bali), dan Jawa (Pulau Jawa).
"Lima suku itu mewakili lima pulau besar di
Indonesia, sesuai dengan teori migrasi di Indonesia. Kelima suku itu juga punya
budaya hampir sama soal penguburan jenazah. Semuanya diletakkan di atas
tanah," kata Hastry.
Dia meneliti belulang manusia dari berbagai
populasi itu. Ada 70 sampel yang diambil, namun hanya 50 dapat terbaca DNA-nya.
Salah satu kesulitannya, di Trunyan, Bali. Jenazah yang menjadi belulang
diletakkan di bawah pohon, tentu terpapar sinar matahari dan terpengaruh
kelembaban udara. Namun, akhirnya sampel DNA dapat juga diambil.
"Rata-rata tidak dikubur. Seperti di Batak,
disimpan di sebuah tugu di Samosir. Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah,
jenazah (belulang) disimpan di tempat dari batu. Keluarga Toraja juga dalam
gua. Untuk Jawa, saya ambil sampel dari beberapa temuan mayat yang ternyata
rata-rata diletakkan di atas tanah kemudian ditinggal. Ini juga budaya,"
lanjutnya.
Untuk pengambilan sampel juga tidak mudah.
Rata-rata, Hastry harus melakukan ritual adat sesuai petunjuk tetua adat
setempat. Sebab, mereka mempercayai upacara harus dilakukan agar tidak terjadi
malapetaka.
"Misalnya di Batak, harus nyanyi-nyanyi pakai
ulos. Di Kalimantan, potong babi dan makan daun sirih. Para tetua adat
mengatakan, pengambilan sampel seperti ini pertama kali dilakukan. Awalnya
sempat susah, tapi karena untuk kepentingan ilmu pengetahuan, akhirnya
diizinkan," sambungnya.
Belulang yang diteliti, rata-rata sudah berusia 10
hingga 50 tahun. Penelitian yang dilakukannya akhirnya selesai dengan karya
ilmiah. Ada kesimpulan yang diambil Hastry; masyarakat Batak, Dayak dan Jawa
mempunyai kemiripan DNA. Yang berbeda, Toraja dan Trunyan.
Namun, tentu saja masing-masing punya ciri khas
tersendiri. Artinya, tidak ada DNA yang sama. DNA mitokondria diambil, karena
melihat pola pewarisan dari ibu. Genetika ini perbandingannya 1:33 generasi
masih sama.
Selanjutnya, hasil penelitiannya itu akan
dimasukkan dalam data base DNA suku-suku di Indonesia. Ini adalah sebuah
rintisan. Di tingkat Asia, sebut Hastry, sudah ada data base DNA. Namun, lima
suku ini belum ada. Sehingga ini jadi sumbangsih besar bagi ilmu pengetahuan.
Tak hanya itu, sesuai profesinya sebagai polisi,
hasil penelitian tersebut amatlah berguna. Bisa lebih cepat dalam identifikasi
korban maupun tersangka, membantu penyidik.
"Jadi sebelum data ante mortem (data saat
korban hidup) didapat, sudah bisa dipetakan. Misalnya, ternyata tersangka punya
DNA orang Batak. Maka, penyidik tinggal mengerucutkan lagi TO (target operasi)
orang Batak. Untuk Densus (Detasemen Khusus 88 Antiteror) juga bisa lebih cepat
lagi (saat identifikasi)," paparnya.
Bagi korban, apalagi dengan kondisi tubuh yang
hancur, data base DNA ini juga sangat berguna bagi cepatnya proses
identifikasi.
Dia juga mengemukakan alasannya, kenapa mengambil sampel
DNA dari orang yang sudah mati. "Saya ingin membuktikan, walaupun
kondisinya sudah hancur, tetapi masih bisa dilihat DNA-nya. Selain itu,
biasanya pada beberapa kasus, petugas kebingungan mencari pembandingnya,"
pungkas Hastry.
sumber : sindonews


0 Response to "Polisi Pertama di Asia Penyandang Gelar Doktor Forensik"
Post a Comment